“Lentera tak Pernah Padam”



Bertempat di Mola Selatan, Kec. Wangi-Wangi Selatan, Kab. Wakatobi, tinggallah keluarga Bapak Lano dan Ibu Bape. Memiliki 5 orang anak yang masing-masing tidak
pernah menempuh yang namanya jenjang pendidikan.
Bapak Lano adalah seorang nelayan penangkap gurita, sedangkan Ibu Bape adalah seorang Ibu Rumah tangga yang setia membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang berat dan sungguh menguras tenaga. Ditengah-tengah kehidupan kita, sering kita mendengar istilah Manusia makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Istilah ini bukanlah suatu masalah yang perlu kita besar-besarkan atau kita perdebatkan. Namun, sungguh berbeda rasanya jikalau kita menempati posisi sebagai seorang Bapak Lano dan Ibu Bape.
Rumah berdinding jelajah, nan beralaskan bambu menjadi saksi bisu kehidupan nyata, yang bertolak belakang dengan apa yang dicita-citakan selama ini. Satu untuk semua dan semua untuk satu mungkin merupakan slogan yang tepat untuk menggambarkan rumah yang berdiri sudah lebih dari puluhan tahun yang lalu, namun terdiri dari satu ruang saja. Ruang makan, kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga dikemas dalam satu paket. Artinya, bisa kita bayangkan sendiri betapa mengharukan kehidupan yang sedang dijalani oleh keluarga Bapak Lano.
Hari demi hari menjadi perjuangan hidup yang berat. Beruntung jikalau dalam 1 hari Bapak Lano dan keluarga bisa makan 2 kali dalam sehari yang mana Anak-anak beliau masih membutuhkan asupan nutrisi untuk pertumbuhannya masing-masing. Namum, keadaan tersebut bukanlah menjadi alasan Si Lano untuk bermalas-malasan dan meratapi takdir yang begitu kelam. Bersambung...

Komentar